Mengantisipasi Kegagalan UN

Senin, 14 Februari 2011

SUKSES UJIAN NASIONAL

Pada umumnya, jika orang mendengar kata ujian atau akan menghadapi ujian, seperti mau perang saja. Panik. Atau seperti menghadapi momok yang sangat menakutkan dan menyeramkan sekali. Apalagi, menjelang ujian belum mempunyai persiapan yang matang. Mungkin Anda pun akan mengalami kepanikan luar biasa, begitu jadwal ujian sudah mepet di depan mata. Anda menjadi tegang dan tidak tahu mana lagi yang harus didahulukan untuk dipelajari.
Menelaah ketakutan yang menghantui orang yang hendak mengikuti ujian dapat disebabkan oleh beberapa faktor dan pengaruh psikologis dari dalam diri sendirinya, seperti antara lain:
Tidak memiliki percaya diri.
Tidak memiliki kemampuan dalam cara-cara belajar yang baik.
Tidak memiliki indikator-indikator belajar yang jelas.
Tidak cukup memiliki minat belajar.
Kurang mempersiapkan diri untuk ujian.
Belajar tidak teratur dan tidak disiplin.
Tidak memiliki kecakapan dalam menghadapi ujian.
Kebiasaan buruk sebahagian orang suka menunda-nunda waktu belajar. Mungkin Anda pun melakukannya juga. Belajar baru dilakukan di saat menjelang ujian, misalnya kurang dari seminggu. Belajar instan atau belajar kilat pun langsung mereka pergunakan. Yang menjadi masalah, mungkinkah belajar instan dapat masuk ke dalam otak seluruh materi pelajaran dari beberapa mata pelajaran? Belajar instan atau belajar mati-matian untuk semua mata pelajaran, jelaslah tidak mungkin dapat menguasai materi pelajaran. Betapa pun keras seseorang belajar.
Bahkan, kemungkinan lain dengan belajar instan bukannya pelajaran yang didapat, tetapi penyakit yang diperoleh. Sebab, belajar instan menuntut pengerahan energi psikis dan fisik yang dipaksakan karena termotivasi untuk menguasai materi pelajaran dalam waktu singkat. Mengingat waktu kian mepet, membuat perasaan tak enak dan gelisah serta menimbulkan ketegangan-ketegangan emosional dalam belajar, sehingga perhatian dan pikiran sangat sulit untuk memfokuskan pada satu masalah atau pokok bahasan. Pikiran yang tak fokus dan terburu-buru memberi dampak tekanan psikologis dan otot-otot pun mengalami ketegangan yang dipaksakan. Sehari mungkin seseorang masih kuat, tetapi jika dua-tiga hari akan jatuh sakit dan mengalami tekanan mental. Orang yang sedang sakit atau mengalami tekanan mental, maka dirinya tak mampu mengerahkan kemampuannya yang tinggal terbatas itu untuk bisa memaksimalkan kemampuannya dalam mengikuti ujian. Bahkan, tekanan mental yang dialami itu justru menjadi penghambat kemampuan bernalarnya, sehingga dirinya mengalami kesulitan dalam mengerjakan dan menyelesaikan soal-soal ujiannya. Soal yang paling mudah pun menjadi terasa sangat sulit, bahkan tak mampu dijawabnya.
Sebaliknya, orang yang mempunyai persiapan yang matang, ujian sangat dinanti-nantikannya dengan penuh semangat. Bagi mereka ujian merupakan bagian penting dalam belajar sebagai alat pembuktian diri dan mengukur tingkat keberhasilan dirinya dalam belajar.
Bagaimana cara menghadapi ujian?
Untuk menghilangkan ketegangan-ketegangan ketika akan menghadapi ujian ada lima tahap yang harus dilalui, antara lain:
Pertama, Pembentukan Rasa Percaya Diri.
Rasa percaya diri merupakan sumber energi dan sikap optimis terhadap kemampuan diri sendiri untuk dapat menyelesaikan segala sesuatu dan kemampuan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian diri pada situasi yang akan dihadapi. Sebab, banyak siswa mengalami kesulitan dan kegagalan menjalani ujian bukan karena tidak mampu menyelesaikan soal. Tetapi, karena tidak pede menyebabkan kemampuan yang dimilikinya tidak muncul maksimal. Siswa banyak mengalami ketegangan-ketegangan, sehingga menekan daya nalar dan yang muncul dominant berupa kepanikan, ketakutan dan rasa cemas.
Kedua, Persiapan
Persiapan jangka panjang dimulai sejak awal pelajaran dengan belajar secara terencana, sistematis, teratur dan disiplin.
Persiapan jangka pendek atau khusus.
Persiapan jangka pendek ini dilakukan 1-2 bulan menjelang ujian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan khusus ini, antara lain:
Mengetahui acuan pembobotan soal ujian.
Dari GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) dapat Anda lihat alokasi waktu pertemuan dari setiap pokok bahasan pelajaran yang Anda pelajari. Anda pun dapat membuat persentasi alokasi waktu pertemuan setiap pokok bahasan yang dibutuhkan untuk mempelajarinya. Jumlah persentasi pembobotan pertemuan setiap pokok bahasan sama artinya dengan jumlah persentasi soal yang akan diujikan perpokok bahasannya dalam ujian. Dengan mengetahui pembobotan pokok bahasan dan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya, tentu memudahkan untuk mengatur dan mengarahkan persiapan Anda.
Mengorganisasi waktu belajar.
Dalam rentang waktu 1-2 bulan menjelang ujian anda harus melakukan persiapan khusus belajar dengan melakukan pengulangan (review), latihan penyelesaian soal-soal atau upaya menilai kemampuan diri sendiri. Untuk menilai kemampuan diri dengan menyelesaikan soal-soal dalam waktu singkat dan tepat. Untuk itu, anda harus melatih kecepatan atau ketangkasan penguasaan materi dengan cara membiasakan diri mengerjakan soal-soal dalam limit waktu yang dipersingkat. Misalnya soal-soal dari BANK SOAL sebanyak 60 soal dan waktu yang ditetapkan 2 jam, maka Anda harus dapat menyelesaikan soal tersebut dalam waktu satu sampai 1 ½ jam. Perlu diingat dalam mengerjakan soal, kerjakan soal yang termudah terlebih dahulu dan cari cara-cara singkat menyelesaikan soal.
Menjaga kebugaran dan kesehatan.
Kebugaran dan kesehatan yang prima sangat dibutuhkan saat ujian. Jika tubuh tidak fit saat ujian, maka Anda akan mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian, konsentrasi dan pikiran untuk ujian karena energi dan daya nalar yang ada sebahagian habis tersita untuk menghadapi atau menahan sakit. Makanya, kebugaran dan kesehatan perlu Anda jaga dan ditingkatkan dengan memperhatikan nutrisi harus cukup, vitamin harus cukup, istirahat dan olah raga ringan dengan teratur.
Mengistirahatkan pikiran dari kesibukan belajar.
Satu hari menjelang ujian, Anda harus menjauhkan diri dari yang berhubungan dengan materi pelajaran atau hal-hal yang bersangkut paut dengan masalah ujian. Anda harus dapat melakukan relaksasi pikiran atau penyegaran pikiran dengan atau pada hal-hal yang bersifat menyenangkan atau olah raga ringan. Kemudian Anda harus istirahat yang cukup.
Ketiga, Tahap Menjelang Ujian
Pada hari H ujian dilangsungkan, beberapa ketentuan yang harus Anda lakukan, antara lain:
1. Persiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk ujian dengan baik.
2. Datanglah ke ruang ujian 10 menit menjelang ujian. Jangan terlalu cepat datang karena akan menimbulkan ketegangan emosional dan kejenuhan dalam penantian ujian, sehingga dapat mempengaruhi dalam memusatkan perhatian dan konsentrasi. Kemampuan Anda pun menjadi tertekan, sehingga tidak optimal dalam mengerjakan soal-soal yang diujikan.
3. Sebelum berangkat dari rumah menuju lokasi ujian, Anda harus sarapan/makan terlebih dahulu. Jika perut dalam kondisi lapar dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk memusatkan perhatian, konsentrasi dan pikiran.
4. Anda harus menghindari kebiasaan buruk membahas dengan teman-temannya perkiraan soal yang akan diujikan menjelang ujian dilaksanakan. Kerugian membahas perkiraan soal saat detik-detik menjelang ujian, akan menimbulkan ketegangan emosional, kepanikan dan tidak percaya diri. Kondisi pikiran dan fisik pun menjadi tidak fresh lagi untuk ujian, sehingga mengurangi energi untuk melakukan pemusatan perhatian, konsentrasi dan pikiran.
5. Lebih baik, jika Anda dapat bercanda-ria bersama teman-temannya dengan relaks dan menggembirakan diri serta melupakan segala hal yang bersangkut paut dengan materi ujian.
Keempat, Tahap Berlangsung Proses Ujian
1. Tulis nomor ujian atau nama dengan jelas dan terang pada kolom yang telah disediakan pada lembar jawaban yang telah dibagikan.
2. Bacalah petunjuk-petunjuk ujian dengan teliti sebelum Anda menjawab pertanyaan.
3. Bacalah soal-soal ujian dengan teliti sebelum menjawab dan pahami benar-benar apa inti yang ditanyakan.
4. Kerjakan soal-soal yang lebih mudah terlebih dahulu dengan tenang dan berpikir.
5. Sediakan waktu 5-10 menit untuk mengoreksi lembar jawaban, apakah penulisan jawaban sudah sempurna atau belum.
6. Jika Anda dapat menyelesaikan jawaban sebelum waktunya habis, pergunakan waktu yang tersisa untuk mengoreksi jawaban-jawaban yang telah ditulis.
7. Periksa kembali nama Anda, nomor ujian dan lain-lain sebelum lembar jawaban diserahkan kepada pengawas ujian.
Catatan: Ketika Anda mengerjakan soal, maka Anda harus mengorganisir cara bernalar Anda, agar tidak mengalami kepanikan atau kebingungan dalam menjawab soal. Untuk memudahkan Anda bernalar, maka Anda harus membantu dan mengarahkan jalan pikiran Anda dengan berusaha membayangkan bentuk atau bangun materi dari soal yang hendak Anda jawab.
Sebaiknya, untuk memudahkan dan menyederhanakan cara berpikir Anda, maka pindahkan bayangan bentuk (bangun) materi soal dari benak pikiran Anda ke atas kertas dengan membuat gambar, sketsa atau grafik dari bangun (bentuk) materi soal tersebut.
Perhatikan setiap unsur atau bidang dari bangun (bentuk) materi soal itu yang sudah diketahui dan yang belum. Kemudian Anda harus mengerti dan mamahami bagian soal yang ditanyakan.
Jika materi penyelesaian soal menggunakan rumus penyelesaiannya, maka perhatikan step by step (tahap demi tahap) penyelesaiannya, apa cara biasa, atau cara penyelesaian dengan penguraian rumus terbalik. Misalnya: Penyelesaian cara biasa untuk mencari Volume sebuah kolam persegi panjang dengan panjang (p) kolam 20 meter, lebar(l) 5 meter dan dalam/tinggi (t) kolam 2 meter. yaitu:
Rumus volume (V) = panjang (p) x lebar (l) x tinggi (t)
V = 20 x 5 x 2 x 1 m
V = 200 meter kubik
Sementara, untuk mencari panjang sebuah kolam renang. Sedangkan Volume (v) kolam renang diketahui sebesar 800 meter kubik, dengan panjang (p) 25 kali dalam (t) kolam dan lebar (l) kolam 8 meter. Maka cara menjawabnya, sebagai berikut:
P = 25 t, l = 8 meter.
Rumus V = p x l x t
p = V : (l x t)
25 t2 = 800 : (8 x t)
25 t x t = 800 : 8
25 t2 = 100
t2 = 4
t = 2 m
Maka Panjang kolam renang = 25 t = 25 x 2 m = 50 m

Kelima, Pasca Ujian
Jika Anda mengalami kegagalan atau tidak lulus dalam menghadapi ujian, maka Anda tidak boleh putus asa. Kegagalan bukan akhir dari segala-galanya, melainkan hal yang biasa dalam belajar dan yang penting dibangkitkan adalah kesadaran untuk mengevaluasi sebab-sebab kegagalan tersebut. Dari kegagalan tersebut dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki perencanaan dan sistematis belajar Anda untuk mengikuti ujian mendatang.

Sumber: “Siapa Bilang Menjadi Manusia Pembelajar Susah?”, karya Drs. Hendra Surya, terbitan ELEX MEDIA KOMPUTINDO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar